Hello Strangers

Kamis, 18 Februari 2016

Mantera Legilimens ^^ Occlumency ^^ Sebelum Gila

Jari jemari ini tak lincah lagi merangkai kata. Bukan untuk menghasilkan barisan huruf yang puitis saja, bahkan untuk mengungkapkan bisikan hati secara real, dan terbuka pun jari ini terasa membeku. 

Oke.. coba baca fikiran ku dengan mantra Legilimens dalam pelajaran Occlumency ala Serial Harry Potter? 
Dalam benak ku sekarang, rencana hidup yang aku buat dan aku revisi tiap waktu, semua berlarian, berputar putar, tak jarang saling menyenggol dan jatuh. Ada yang bangkit, semangat lagi berlari, tapi ada malah yang jatuh pingsan berdarah darah. Si "U" yang berdarah. Disaat bersamaan Si "K" yang hilang arah. "K" terlalu idiot untuk tau bahwa dia menciderai sahabatnya "U"
Beruntunglah "U" ternyata masih punya emak. masih ada yang merawatnya. 
Jangan bayangkan "K" yang sebatang kara. Mau mengadu sama siapa??

Lain lagi cerita "W". Dia menjadi tenar di kuartal IV tahun kemaren, 2015. Dicari cari dan ditanya semua keluarga. Memang seharusnya disaat itu dia merdeka, bisa bahagia dan bisa pula beranak pinak jadi "I". Namun apadaya, "W" harus ikhlas menunggu sampai Maret untuk di pinang (yang notabene buang waktu 6 bulan dari USAHA YANG TELAH AKU KERJAKAN MATI MATIAN) 

cukuplah cerita "W", dia menjadi tidak menarik lagi setelah diundur dan ditunda. Aku marah tapi siapa peduli. Mereka tak tau perjuangan mengejar "W" agar genap 4 tahun (I DID,.... but who cares?) dan "U" tak perlu terseok seok lagi untuk keperluan ini dan itu. 

Aku tak berharap kalian mengerti isi kepalaku yang miring ke samping ini. Aku hanya lelah sedikit. sedikiiit saja. Semangat membara masih sama. Aku ingin selamatkan "K" dari kemungkinan kemungkinan GILA. Dia semakin liar, semakin hilang arah. Yang aku takutkan di fase manianya hilang dan berganti depresi, itu artinya aku harus tinggal disini, di ruang dingin ini, meracik obat dengan suara stamfer dan mortir yang beradu girang, menjadi kelas bawah namun ilmunya dikuras habis habisan, kesempatan "K" menjadi mania lagi jadi semakin kecil. DAN AKU MENUA. AKU TUA. AKU DUA PULUH DUA DAN TIDAK MAU TUA.

Hei,, kamu masih bisa baca isi fikiran ku? masih berlaku mantra Legilimens? 
Kau bisa lihat sekarang si "K" harap harap cemas menunggu penggumuman, Vonis dari pengadilan. Apakah dia bersalah melukai "U", atau terbebas dengan alasan psikologis??? 

Aku berharap dia Bebas... Karena kehidupanku kedepan dan isi kepalaku dari  A-Z ditentukan oleh nasib "K". Aku janji,  "K" yang sekarang, yang hilang arah, disorientasi,  akan pulih 12 bulan mendatang menjadi pribadi baru yang lebih dewasa. Dan siap menjalani "K" yang sebenarnya berfungsi dalam kehidupan. 


note : Pengumuman tes diundur sehari, jantung yang tadinya dagdigdug jadi makin menceracau tak jelas. semoga rezeki disini, AAmiin. 

Rabu, 09 Desember 2015

1000 Guru Sumbar.. Rancak Banaaaa

4-6 Desember 2015

Tiga hari mencoba lari dari zona nyaman, tapi kenyataannya disini bersama kakak kakak 1000 Guru Sumbar yang  luar biasa ini, malah berasa sangat nyaman. I swear.  Yang awalnya gak saling kenal, terus keluar pengumuman volunteer,  mulai stalkingin sosial media yang di mention di instagram, dibuatkan grup buat chit-chat, terakhir dikumpulin di taman budaya selama 4 hari berturut turut buat ngebahas acara kita. Bertemu dengan orang orang baru dalam waktu singkat, menjadi akrab, itu menurut ami, ini masuk pelajaran teori zona nyaman lagi. Masih ada yang bisa membantah teori kenyamanan? Ada yang bisa bantu selesaikan perkara comfortzone ini? *skip *skip *skip

Senin, 7 Desember, setelah sibuk ganti display picture dan upload foto ke sosmed bersama anak anak SD yang masih lugu dan polos dan kakak kakak yang memakai baju seragam bersablon dengan tulisan  1000 Guru Sumbar masih menimbulkan pertanyaan, banyak chat yang terabaikan. Ada yang bilang KKN, KBM dan lain sebagainya.  Ami pikir ami udah jadi volunteer dari kegiatan paling mainstream tahun ini. Ternyata masih banyak yang gak tau apa itu 1000 Guru.
                                    

Rabu, 04 November 2015

Temen Random Temen ALIG

Seminggu jadi pejalan~~ nganterin orang jalan jalan

Ada yang berpendapat  gue terlalu nekad, terlalu mudah percaya orang baru, terlalu berfikir “semua akan baik baik saja”.  Ada yang salah sama pikiran terbuka gue (terhadap orang orang yang menurut gue baik), ada yang rancu soal arti prinsip “positif vibe” yang gue anut.  Untuk beberapa alasan gue setuju, tapi nekat sama ceroboh punya batas lo. Hehe masih aja ngeles. Ya udah, gue terima kritik dan masukan yang membangun.

Menawarkan diri jadi guide sebenarnya agak berlebihan ya buat cewek kayak gue. Seolah udah paham bener yang mau dijalanin. Haha. Awalnya cuma iseng, basa basi gitu ngajakin teman di sosmed mampir jalan jalan liat indahnya Sumbar. Dan diseriusin, disinilah kredibilitas gue sebagai pelontar ajakan traveling dipertaruhkan. Duo traveler yang ngaku ngaku beckpeker gembel nyampe Padang, Senin 26 Okt 2015 tengah malam. Dimulailah kesibukan dengan jalan jalan yang gue rancang sendiri, jalan ke tempat yang gue mau, jalan dengan siapa yang gue mau, nelponin penyewaan motor, nyariin tempat numpang tidur, mikirin lokasi wisata yang mau dituju, sampe mikirin mau makan apa juga otak gue yang dipake. Soalnya tiap ditanya mau makan apa, semua pada jawab: terserah. Sekedar info, di Padang gak ada nama makanan terserah. haha






Banyak pelajaran singkat dari jalan seminggu bareng teman random yang sedikit gila. Pelajaran bagi diri sendiri lebih menuntut perhatian. Gue terlalu fokus sama tugas gue sebagai guide sampai banyak fakta fakta yang gak bisa didapat begitu saja dari percakapan alakadar antara kita. Haha. (Bahasa nya bikin ngakak asli). Tapi ini emang pelajaran penting buat di evaluasi, gue bisa dengan mudah ngajak orang asing ke kehidupan gue, tapi gue disana cuma jadi semacam background aja diantara mereka. Jembatan istilah yang sering gue denger. Ngerti gak sih?  Misalnya ini sebuah novel, gue penulisnya, gue yang punya ide, tapi ternyata gue cuma mampu menulis dengan sudut pandang orang ketiga,  tanpa gue ikut dalam cerita tersebut. Paham?

Kesenengan orang emang beda beda ya. Dari teman teman baru ini gue bisa jadi lebih mengenal sahabat sahabat gue. Selama ini gak terlalu care sama apa kesukaan dia. Ada yang lebih suka nongkrong di café, ada yang doyan naik kora kora pasar malem, ada yang cukup bahagia dengan duduk di warung kopi pinggir jalan, ada yang lebih sederhana lagi kebahagiaannya, nunggu wisuda. Sekarang makin paham passion masing masing kemana. Buat perjalanan itu sendiri, gak semua temen bisa diajakin jalan sampe gempor kecape an, gak semua bisa naik tangga sampe ribuan, gak semua kaki bisa lari larian sambil ketawa ditengah hujan. Gue paham itu, tapi sejauh yang gue tau sebagai pejalan awam, kalo mau reward view yang cantik emang harus disertai perjuangan. Gue rela deh bawain beban beban berlebihan mereka, bawain sepatu, atau apapun yang bisa meringankan beban hidup mereka. Yang penting kita sama sama nyampe puncak. (ceilaah, pencitraan banget).
 
 
Terakhir, kesan gue buat seminggu yang luarbiasa ini, gue masih ngiri sama yang bisa jalan jalan keluyuran di nusantara bareng sahabatnya. Mungkin gue bakal nyari nyari kontak sahabat lama, temen SD mungkin, buat gue ajakin liburan. Keluyuran di negeri sendiri, bukan sebagai turis, tapi sebagai anak bangsa yang belajar menghargai arti perjalanan.  Tapi nunggu kerja dulu kali ya, biar bisa ngerasain bahagia  jalan sama duit sendiri itu gimana. Ah, makanyaa cepet selesaikan kewajiban mi. Fighting !!



Minggu, 18 Oktober 2015

Negeriku, pesonamu hilang terhalang kabut.

Oh hai, maaf suara agak serak, lagi batuk, badan kurang enak, mata perih, hidung mampet. Kemaren hari minggu baru balik dari liburan sepekan di Bukittinggi. Sepanjang perjalanan berasa meriang, tambah lagi hujan rintik rintik mulai dari Lembah Anai sampai Lubuak Alung. Ah, ternyata parasetamol generik yang kemahalan dibeliin keponakan tadi ini “onset of action” yang lama. Udah satu jam masih belum terasa khasiatnya.

Dalam perjalan hanya diam, tak bicara sedikitpun bahkan untuk beramah tamah dengan sopir travelpun tak sempat, sibuk mengontrol kondisi tubuh agar tak tumbang sampai di Padang. Headset terpasang di kuping, Dami Im semangat sekali menyanyikan “gladiator”, sesekali Banda Neira ikut meningkahi dengan akustikan sederhana namun menyenangkan telinga. Ada juga Family of The Year dengan Hero…  Syahdu.

Aku menyukai setiap perjalanan, bahkan untuk perjalanan yang keseribukali sekalipun, mataku akan tetap terjaga, sibuk melihat papan penunjuk jalan, melirik pasar pinggir jalan penyebab macet, melihat sungai berpadu mesra dengan hijaunya lembah. Aku terpesona.

Tapi ada yang berbeda. Kali ini pesona negeriku tak seperti biasa, ada kabut yang menghalanginya. Pandanganku hanya terhenti sekitar limaratus meter, setelah itu semuanya sama, berbingkai asap putih keabuan.

Masih terbatuk batuk, aku tetap memandangi arah barat dan timur yang seharusnya kulihat Gunung Marapi dan Gunung Singgalang berhadapan, saling sapa, saling bercengkrama tentang tingkah polah pendaki atau kadang saling memamerkan siapa yang paling banyak pengunjungnya. Koto Baru memang punya magnet tersendiri bagiku. Belum lagi tetangganya, Pandai Sikek yang  masuk bucketlist 2015, pengen liat tenunan kebanggaan Sumatera Barat yang ada di uang limaribuan. InsyaAllah akhir bulan ini, aku aminkan dalam hati.
Lain lagi pesona air terjun Lembah Anai, tepat di pinggir jalan Silaiang, menghipnotis semua mata agar memandangnya. Selalu ramai, bahkan ada yang berenti di seberang pagar pembatas pinggir jalan hanya untuk merasakan percikan airnya. Sayang kabut mulai menganggu keelokan pemandangannya.

Aku coba pakai masker, tapi kurang nyaman. Jadi ingat komentar teman yang juga gak bisa pake masker. Katanya pakai masker sama aja ngebunuh pelan pelan, “Mati dek angok awak surang lebih menyedihkan, dak bisa nyalahan Pak Presiden do”. Kemaren lelucon sederhana ini bisa buat terpingkal pingkal, dan sekarang sudah mengerti rasa kurangnyaman itu ditambahlagi ini flu batuk gak berenti berenti. Kayaknya batuk ini ulah kabut asap. Soalnya kabut di Bukittinggi jauh lebih parah daripada di Padang. Padahal sudah hujan tiap hari, kabutnya tetap berasa dekat, jam 10 pagi berasa jam 6 subuh. Menyebalkan.

Pertanyaan yang bernada pasrah ini selalu aku tanyakan. Sampai kapan? Sampai kapan pengap begini? Kangen banget sama langit biru, rindu sama sunset di Pantai,  kangen ngerimba, kangen hijaunya alam Sumatera Barat, rindu ketinggian agar bisa memandang bukit barisan di kejauahan.
Mau mengadu sama siapa? Pak Presiden lagi? Pak Menteri? Tanggapannya lama, mungkin asap belum sampai ke Istana. Kepada pembakar hutan? Mereka cuma punya korek api saja.

Bencana ini bukan hal baru, tapi belajar dari masa lalu, kenapa selalu terulang. Semacam sudah jadi jadwal rutin buat mengasapi nyamuk nyamuk yang mulai berkembang ganas. Kami di fogging. Kemudian mati. Tamat.

Epilog:
   Kepada siapapun yang merasa bertanggung jawab atas bencana ini. Bertindaklah secepat api membakar lahan lahan kering. Secepat bara dalam lahan gambut menyala lagi tertiup angin. Selamatkan paru paru dunia, paru paru bangsa ini, paru paru kami, anak bangsa. Selamatkan otak kami yang mulai kekurangan oksigen.